Arulicous.com – Pernah nggak sih kalian merasa kalau hidup ini sebenarnya cuma rangkaian “belajar” yang nggak ada lulus-lulusnya? Kadang kita merasa sudah paham banget sama alur cerita hidup sendiri, eh, tiba-tiba ada plot twist yang bikin kita sadar kalau ternyata pemahaman kita selama ini masih dangkal. Begitulah perasaan saya setelah menonton film Geez & Ann.
Film yang diadaptasi dari novel karya Rintik Sendu ini memang punya tempat tersendiri di hati Gen-Z. Meskipun banyak yang sempat debat kusir soal ending-nya—biasalah, ekspektasi penonton kan seringkali nggak sejalan dengan visi sutradara—tapi satu hal yang pasti: film ini sukses bikin kita semua overthinking tentang masa lalu.
Jujur, mungkin beberapa dari kita punya sosok ‘Geez’ dalam hidup kita. Meski sekarang kita sudah melangkah jauh, memulai cerita baru dengan orang yang berbeda, akan selalu ada satu ruang khusus—sebuah sudut kecil di memori—yang tetap menyimpan namanya. It’s real, it’s painful, but it’s part of the journey.
Salah satu momen yang paling bikin hati mencelos adalah saat adegan wisuda Ann. Di saat yang seharusnya jadi momen bahagia, Ann justru menyebut nama Bayu sebagai orang yang paling spesial. Di saat itu, saya cuma bisa membatin, kasihan banget Geez. Dia sudah datang jauh-jauh, berusaha setia, tapi malah harus menerima kenyataan pahit bahwa posisinya sudah digantikan.
Tapi, mari kita bicara objektif. Geez itu sebenarnya lelaki yang baik. Dia cuma… ya, telat datang saja di waktu yang tepat. Apalagi waktu dia harus menghadapi konflik pelik dengan Mamahnya; vibe-nya dapet banget. Kita bisa lihat kalau dia bukan cowok yang jahat, dia cuma terjebak dalam situasi yang sulit. He’s a good boy, really.
Namun, di sinilah letak dilemanya. Banyak dari kita—termasuk saya—sebenarnya tahu kalau Geez itu baik, tapi entah kenapa hati lebih condong ke Bayu. Mungkin karena wanita cenderung lebih mencari sosok yang tegas dan punya kepastian? Rasanya kedewasaan Bayu memberikan rasa aman yang mungkin tidak bisa diberikan Geez saat itu. Kalau kalian mau tahu alasan lebih dalamnya, coba tonton lagi filmnya, mungkin kalian akan menemukan perspektif yang berbeda.
Dan kita nggak bisa bahas film ini tanpa menyinggung kehadiran Bambang, yang diperankan oleh Bintang Emon. Dia sukses jadi komedi di tengah melankolisnya cerita. Ingat nggak momen saat Ann sedang LDR? Bambang dengan santai memberikan “doktrin” mautnya:
- LDR itu sebanyak 85% gagal.
- Dan 15% lagi nggak berhasil.
Antara mau ketawa karena lucunya, atau mau nangis karena faktanya memang terasa relate banget. Kalimat itu seolah jadi tamparan realita buat siapa pun yang sedang berjuang melawan jarak. Memang benar, terkadang jarak bukan cuma soal kilometer, tapi soal hati yang mulai merasa asing.
The last narrative from this movie really gets me. Ada sebuah perenungan yang sangat dalam di bagian akhir cerita yang mungkin jadi jawaban buat kita yang masih terjebak nostalgia:
Beberapa cerita memang harus diakhiri untuk bisa dimulai lagi dengan baik… Apalagi yang diakhiri gak pernah benar-benar selesai…
Kalimat itu seperti menutup semua rasa penasaran saya. Kadang, kita harus berani menutup buku yang lama, bukan karena ceritanya buruk, tapi karena kita butuh ruang baru untuk menulis bab yang jauh lebih indah. Bagaimana dengan kalian? Sudahkah kalian berdamai dengan ‘Geez’ versi kalian sendiri?
